Teks Hadits

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ، سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

“Dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lidah, berat dalam timbangan, dan dicintai Allah Yang Maha Penyayang: subḥānallāhil-‘aẓīm, subḥānallāh wa biḥamdih (Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Maha Suci Allah dengan sembari memuji-Nya).” 

 

Riwayat Hadits

Diriwayatkan oleh al Bukhari dalam Sahihnya no.6682 dan Muslim, no.2694

 

Pelajaran Hadits

Pertama, anjuran untuk memperbanyak dzikir dengan lafadz tersebut. Sebab dzikir tersebut memiliki keutamaan yang agung. Yaitu:

  1. Menjadi sebab dicintai oleh Allah ta’ala
  2. Ringan bagi seorang muslim. Lantaran hanya terdiri dari beberapa kata.[1]
  3. Menjadi amalan pemberat pada timbangan kelak di akhirat

Kedua, dzikir tersebut dicintai oleh Allah ta’ala sebab:

  1. didalamnya terdapat pujian kepada Allah ta’ala dan
  2. pensucian dari berbagai bentuk kekurangan.

Berkata Ibnul Malak[2] rahimahullah,

وَإِنَّمَا صَارَتَا أَحَبَّ؛ لِأَنَّ فِيْهِمَا الْمَدْحُ بِالصِّفَاتِ السَّلْبِيَّةِ التِيْ يَدُلُّ عَلَيْهَا التَّنْزِيْهُ، وَبِالصِّفَاتِ الثُّبُوْتِيَّةِ التِّيْ تَدُلُّ عَلَى الْحَمْدِ.

“Dan tidak lain keduanya menjadi dzikir yang paling dicintai lantaran pada keduanya terdapat sanjungan kepada Allah dalam bentuk penafian sifat-sifat buruk yang telah ditunjukkan oleh pensucian dan penetapan sifat-sifat baik yang telah ditunjukkan oleh pujian.”[3]

Ketiga, penetapan adanya sifat cinta bagi Allah ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِيْنَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” At-Taubah [9]:4

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,

فَإِنَّ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَإِجْمَاعَ الْمُسْلِمِينَ: أَثْبَتَتْ مَحَبَّةَ اللَّهِ لِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya al Qur’an, as Sunnah, serta kesepakatan kaum muslimin telah menetapkan tentang kecintaan Allah ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman.”[4]

Keempat, penetapan adanya timbangan amal pada hari kiamat. Berkata Abu Ishaq az Zajjaj rahimahullah,

أَجْمَعَ أَهْلُ السُّنَّةِ عَلَى الْإِيمَانِ بِالْمِيزَانِ، وَأَنَّ أَعْمَالَ الْعِبَادِ تُوزَنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَنَّ الْمِيزَانَ لَهُ لِسَانٌ وَكِفَّتَانِ وَيَمِيلُ بِالْأَعْمَالِ

“Ahlus sunnah telah sepakat tentang iman kepada timbangan. Dan bahwasanya amalan-amalan para hamba akan ditimbang kelak pada hari kiamat. Dan mereka juga beriman bahwa timbangan tersebut memiliki satu tiang dan dua neraca yang bisa bergerak dengan sebab amal perbuatan.”[5]

=================================

[1] Berkata Hasan bin ‘Ali al Fayumi,

أي وعدل عنه إلى كلمتان إشارة إلى قلة أحرفهما وجزالة لفظهما

“Maksudnya, beliau beralih dari penyebutan -kalam- menjadi kalimah (kata) sebagai isyarat bahwa jumlah hurufnya sangat sedikit dengan makna yang sangat luas.”

Lihat : Fathu al Qarib al Mujib ‘ala at Targhib wa at Tarhib, 7/337

[2]  Nama beliau Muhammad bin Izzuddin Abdul Lathif bin Abdul Aziz ar Rumi al Karmani al Hanafi. Masyhur dengan sebutan Ibnu al Malak. Wafat 854 H

[3] Syarhu Masabih as Sunnah, 3/117

[4]  Majmu’ al Fatawa, 2/354

[5]  Fathu al Bari,13/528