بِسْمِ اللَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
Amma ba’du:
Diantara adab yang luhur dalam islam adalah makan dengan tiga jari. Meskipun adab ini sangat penting namun di dalam kehidupan sehari-hari bisa dikatakan sangat jarang kita mempraktekkan adab ini. Salah satu alasannya ialah lantaran mayoritas masyarakat yang tidak menerapkan adab ini, karena enggan atau tidak tahu sama sekali.
Berikut ini beberapa poin penting seputar adab makan dengan tiga jari.
Dalil anjuran makan dengan tiga jari
Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu berkata,
رَأَيْتُ رسولَ اللَّه ﷺ يَأْكُلُ بِثلاثِ أَصابِعَ فَإِذا فَرغَ لَعِقَها
“Aku melihat Rasulullah shalallahu alaihi wa salam makan dengan tiga jari, lantas apabila telah usai beliau menjilatnya.”[1]
Hukum
Makan dengan tiga jari hukumnya disunnahkan. Berkata An-Nawawi rahimahullah,
بَابُ اسْتِحْبَابِ الأَكْلِ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ
“Bab: Anjuran makan dengan tiga jari…”[2]
Berkata Al-Husain bin Muhammad Al-Maghribi rahimahullah,
فَدَلَّ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ الأَكْلُ بِالثَّلَاثِ
“Maka hal tersebut menunjukkan bahwa yang sunnah adalah makan dengan tiga jari…”[3]
Jari yang digunakan untuk makan
Dalam riwayat ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu di atas tidak disebutkan tentang jari mana yang digunakan untuk makan. Namun para ulama menjelaskan bahwa jari yang dimaksud ialah ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah.
Ka’ab bin ‘Ujrah radhiyallahu anhu berkata,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ بِأَصَابِعِهِ الثَّلاثِ الإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا وَالْوُسْطَى
“Aku melihat Rasulullah shalallahu alaihi wa salam makan dengan tiga jarinya; Ibu Jari, jari telunjuk, dan jari tengah…”[4]
Berkata As-Shan’ani rahimahullah,
“(Adalah beliau shalallahu alaihi wa salam maka dengan tiga jari): jari tengah, jari telunjuk, dan ibu jari, hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan secara rinci dalam sebagian riwayat berita…”[5]
Adapun kedua jari lainnya maka boleh dalam kondisi menggenggam atau terbuka. Berkata Abdu Al-Haqq Ad-Dahlawi rahimahullah,
وَلَا يُعْرَفُ حَالُ الإِصْبَعَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ أَيَقْبِضُهُمَا أَوْ يَتْرُكُهُمَا مَبْسُوطَتَيْنِ، وَالظَّاهِرُ هُوَ الأَوَّلُ حَتَّى يُوجَدَ النَّقْلُ
“ …. Dan tidak diketahui kondisi dua jari lainnya, apakah beliau menggenggamnya atau membiarkannya terbuka. Namun yang nampak adalah yang pertama sampai dijumpai adanya penukilan.”[6]
Makan selain dengan tiga jari
Bila mampu maka makan dengan selain tiga jari hendaknya dihindari. Berkata Mulla Ali Al-Qari rahimahullah,
وَإِنَّمَا اقْتَصَرَ عَلَى الثَّلَاثَةِ ; لِأَنَّهُ الْأَنْفَعُ، إِذِ الْأَكْلُ بِإِصْبَعٍ وَاحِدَةٍ مَعَ أَنَّهُ فِعْلُ الْمُتَكَبِّرِينَ لَا يَسْتَلِذُّ بِهِ الْآكِلُ، وَلَا يَسْتَمْرِئُ بِهِ لِضَعْفِ مَا يَنَالُهُ مِنْهُ كُلَّ مَرَّةٍ، فَهُوَ كَمَنْ أَخَذَ حَقَّهُ حَبَّةً حَبَّةً، وَبِالْأُصْبُعَيْنِ مَعَ أَنَّهُ فِعْلُ الشَّيَاطِينِ لَيْسَ فِيهِ اسْتِلْذَاذٌ كَامِلٌ، مَعَ أَنَّهُ يُفَوِّتُ الْفَرْدِيَّةَ، وَاللَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ، وَبِالْخَمْسِ مَعَ أَنَّهُ فِعْلُ الْحَرِيصِينَ يُوجِبُ ازْدِحَامَ الطَّعَامِ عَلَى مَجْرَاهُ مِنَ الْعَادَةِ، وَرُبَّمَا اسْتَدَّ مَجْرَاهُ فَأَوْجَبَ الْمَوْتَ فَوْرًا وَفَجْأَةً
“Tidak lain pembatasan beliau berupa makan dengan tiga jari ialah lantaran itulah yang paling bermanfaat.
Sebab, makan dengan satu jari selain hal tersebut merupakan perbuatan orang-orang yang sombong juga tidak membuat nikmat orang yang sedang makan. orang yang melakukannya….
Makan dengan dua jari, selain hal tersebut juga merupakan perbuatan syaithan juga tidak akan sempurna kenikmatan didalamnya. Demikian pula hal ini berakibat melewatkan bilangan ganjil padahal Allah adalah Dzat yang ganjil dan menyukai ganjil.
Sedangkan makan dengan lima jari, selain hal itu merupakan perbuatan orang-orang yang rakus hal itu juga berkonsekuensi menumpuknya makanan di jalur pencernaan. Dan terkadang hal tersebut parah dan menjadikan kematian mendadak.”[7]
Pengecualian
Makan lebih dengan tiga jari diperbolehkan bila ada kebutuhan. Seperti bentuk makanan yang tidak memungkinkan makan dengan tiga jari. Al-Maghribi rahimahullah berkata,
فَدَلَّ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ الأَكْلُ بِالثَّلَاثِ، وَلَا يَضُمُّ الرَّابِعَةَ أَوِ الخَامِسَةَ إِلَّا إِذَا احْتَاجَ إِلَى ذَلِكَ؛ بِأَنْ يَكُونَ الطَّعَامُ غَيْرَ مُشْتَدٍّ لَا يَحْفَظُهُ الثَّلَاثُ، فَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ بِمَا يُمْكِنُهُ التَّنَاوُلُ، وَيَلْعَقُ مَا مَسَّهُ الطَّعَامُ مِنَ اليَدِ
“Maka hal ini menunjukkan atas sunnahnya makan dengan tiga jari. Dan tidak menggabungkan jari keempat atau kelima melainkan apabila ia membutuhkannya; seperti bila tekstur makanannya lembek yang tidak bisa dijimpit dengan tiga jari. Sehingga butuh untuk menyertakan jari lain agar memungkinkan untuk mengambilnya. Dan hendaknya ia menjilat jari-jemari yang tersentuh makanan tersebut.”[8]
Orang pertama yang makan dengan sendok
Berkata As-Saffarini rahimahullah,
(فَائِدَةٌ): لَا بَأْسَ بِالْأَكْلِ بِالْمِلْعَقَةِ كَمَا فِي الْإِقْنَاعِ وَغَيْرِهِ. وَذَكَرَ الْجَلَالُ السُّيُوطِيّ فِي الْأَوَائِلِ أَنَّ أَوَّلَ مَنْ اتَّخَذَ الْمِلْعَقَةَ سَيِّدُنَا إبْرَاهِيمُ الْخَلِيلُ عَلَيْهِ وَعَلَى نَبِيِّنَا أَفْضَلُ الصَّلَاةِ وَأَتَمُّ التَّسْلِيمِ.
“Faedah: tidak mengapa maka dengan sendok sebagaimana yang terdapat dalam kitab Al-Iqna’ dan selainnya. Dan Jalaluddin As-Suyuthi menyebutkan dalam kitab Al-Awail bahwa orang yang pertama menggunakan sendok adalah sayyidina Ibrahim Al-Khalil, semoga tercurah untuk beliau shalawat yang paling utama dan taslim yang paling sempurna.”[9]
Allahu a’lam bis shawab
*****
[1] Hr. Muslim, no.
[2] Riyadhu As-Shalihin, hal 239
[3] Al-Badru At-Tamam Syarhu Bulughi Al-Maram, 10/165
[4] Hr. At-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath, no. 1649, Al-Baghawi dalam Al-Anwar Fi Syamail An-Nabiyyi Al-Mukhtar, no. 937
[5] At-Tanwir Syarhu Al-Jami’ As-Shaghir, 8/520
[6] Lama’atu At-Tanqih Fi Syarhi Misykati Al-Mashabih, 7/228
[7] Mirqatu Al-Mafatih Syarhu Misykati Al-Mashabih. 7/2694
[8] Al-Badru At-Tamam Syarhu Bulughi Al-Maram, 10/165
[9] Ghidzau Al-Albab Fi Syarhi Mandzumati Al-Adab, 2/95
